Senin, 11 Mei 2009

KREASI

Hari Depan Tercerahkan tanpa Nostalgia

Hari ini, kemarin, dulu adalah sebuah catatan sejarah yang mesti kita lewati dalam perjalanan hidup kita. Tidak seorangpun tahu masa depan kita seperti apa, esok hari apa yang akan terjadi, what? hanya sang pencipta dan kita sendirilah yang tahu. Terkadang jika teringat masa lalu seperti Kecewa, sedih, gembira, riang, adalah suatu hal yang sering kita alami sebagai insan biasa. Hal ini sering kita implementasikan dengan lamunan yang membuat terbuai menjadi orang yang thulul amal atau panjang angan-angan, hingga waktupun habis disitanya.

Aduh waktu Zaman dulu ya…………..?? sandang pangan murah sekarang yang katanya zaman reformasi malah tambah bobrok….. siapa yang salah? dulu segalanya gampang dan murah sekarang mah yang halal yang haram ja susah.

Pemilu juga ngak slese-slese, soal DPT, Money politic , kisruh…. Capek deh,.,.!

Pusssingggg……….

Inilah kalimat yang dipakai untuk menyalahkan zaman, menyalahkan dunia dalam keluhan kita. Seakan itu akan meringankan keadaan dan ingin melepaskan diri dari kenyataan masa kini dan orang bisa jadi melamun bernostalgia.

Nostalgia : Ingin merengkuh masa lampau mengangap masa lampau adalah masa terbaik. Berandai-andai : ingin erengkuh masa depan tanpa proses, menganggap masa kini adalah sebuah keadaan cacat yang mesti disingkirkan.

Ada masa yang memang sulit. Benar-benar orang Indonesia tahu ini. Semua orang merasakan pahitnya zaman. Dewasa ini, Pengangguran, pendidikan, bencana yang merupakan problematika multidimensi yang masih perlu dicari solusinya.

Lalu apa yang saat ini kita cari?

Saat ini banyak orang lebih memilih untuk benostalgia ketimbang pusing memikirkan apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya. Memang enak bernostalgia tapi itu tidak mengatasi permasalahan, malah akan mengatasi masalah dengan masalah baru, mengatasi kegagalan dengan kegagalan baru.

Bukankah Allah sudah bersabda dalam QS.Al Baqoroh ayat Allah tidak akan membebankan makhluknya kecuali sesuai denhgan kemampuannya.

Allah lebih tahu porsi makhluk ciptaannya. Dialah penguasa jagad raya yang mengatur siang malam, mendung hujan, hidup mati semua terjadi karena kehendaknya.

Saatnya kini, idealnya seorang muslim yang meyakini adanya Allah berbenah diri dan mulai membangun masa depan (building future). Ibarat kepompong yang ketika panas, hujan, badai menerjang ia mampu bermetamorfosa menjadi kupu-kupu yang indah atau sebaliknya, kita adalah kepompom yang kering, mati dan terdegradasi dalam menyabet gelar metmorfosa yang sempurna.

Siapkah kita menghentikan nostalgia (back to the past) yang tidak ada artinya ini, mulailah membangun masa depan yang tercerahkan dengan niat yang baik, ikhtiar, mulailah dengan mimpi, bergaulah dengan orang-orang yang mendukung mimpi kita, istiqomah dengan proses, yang terakhir berdoa selalu pada sang khalik.

By Arif Setiawan

Direktur LAPMI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

pesan formulir